10 PEMBATAL KE-ISLAM-AN: 10

6 01 2009

Pembatal 10:
Berpaling dari Agama Allah

Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya.

Penjelasan:

Yang kesepuluh –dan ini yang terakhir- yaitu berpaling dari agama Allah, tidak perhatian kepadanya, tidak mempelajarinya, kalaupun dia mempelajarinya tetapi tidak mau mengamalkannya. Pertama dia berpaling dari ilmu, kemudian berpaling dari amal –kita memohon keselamatan kepada Allah- sehingga walaupun seseorang beramal akan tetapi tidak didasari ilmu maka amalannya adalah sesat, oleh karena itu seseorang harus belajar terlebih dahulu baru kemudian beramal. Adapun orang yang telah memperoleh ilmu kemudian meninggalkan amal, maka dia termasuk orang-orang yang dimurkai dan barangsiapa beramal tetapi meninggalkan ilmu, maka dia termasuk orang-orang yang sesat.

Perkara inilah yang kita selalu berlindung darinya kepada Allah pada setiap raka’at:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (nashrani).” (Al-Fathihah: 6-7)

Barangsiapa berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mau mengamalkannya, maka sungguh dia menjadi murtad dari agama Islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Kitab-Ku), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (Thaha: 124)

Berpaling dari peringatan-Ku adalah tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

“Dan orang-orang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (Al-Ahqaf: 3)

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih dzalim dari orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As Sajdah: 22)

Dia berpaling darinya setelah diingatkan dengannya.

Di sana ada manusia yang tidak mempelajari agama ini karena malas, orang seperti ini tidak dikafirkan tetapi dicela karena kemalasannya. Adapun apabila dia meninggalkan untuk menuntut ilmu karena tidak menyukai ilmu itu, maka inilah yang disebut berpaling dari ilmu dan kita berlindung kepada Allah (darinya), inilah yang dikafirkan.

Apabila seseorang menyukai ilmu dan mencintainya akan tetapi dia malas karena menuntut ilmu itu sulit, membutuhkan kesabaran, menahan diri dan duduk (untuk menuntut ilmu) sedangkan dia malas, maka dia dicela atas kemalasannya dan peremehannya akan tetapi tidak sampai batas kekafiran.

Dan dalilnya firman Allah:

“Dan siapakah yang lebih dzalim dari orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As Sajdah: 22)

Penjelasan:

Berpaling yang menunjukkan bahwa dia tidak menyukai ilmu atau membencinya ini adalah kekafiran dan kita berlindung kepada Allah (darinya).

Penutup

Tidak ada perbedaan pada seluruh pembatal ini antara orang yang bersenda gurau, bersungguh-sungguh dan orang yang yang takut kecuali orang yang dipaksa. Semua pembatal ini) adalah sebesar-besar perkara yang menyebabkan bahaya dan perkara yang paling banyak terjadi, maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati darinya dan mengkhawatirkan dirinya terjatuh dalam pembatal-pembatal keislaman ini –kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan pedih siksa-Nya-

Penjelasan:

Tidak ada perbedaan pada pembatal-pembatal yang sepuluh ini antara orang yang bersungguh-sungguh yaitu sengaja dengan ucapan dan perbuatannya dan orang yang bersenda gurau yaitu orang yang tidak sengaja hanya saja dia memperbuatnya karena bergurau dan main-main. Di sini ada bantahan terhadap al Murji’ah yang mengatakan: “Seseorang tidak dikafirkan sampai dia meyakininya dalam hati.” Tidak ada perbedaan antara orang yang bersungguh-sungguh, bersenda gurau atau orang yang takut yang dia melakukan perkara-perkara ini dalam rangka menolak rasa takut, maka yang wajib atasnya adalah bersabar.

(kecuali orang-orang yang dipaksa) apabila dia dipaksa untuk mengucapkan kalimat kekufuran dan tidak mungkin baginya untuk terbebas dari kedzaliman ini melainkan dengannya, maka Allah telah memberi keringanan baginya dalam masalah tersebut.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (An Nahl: 106)

Sebagaimana hal ini terjadi pada ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, yang sebab turun ayat di atas adalah padanya radhiyallahu ‘anhu tatkala orang-orang kafir menangkapnya dan menyiksanya sampai dia mau berkata tentang Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yakni mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian dia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan menyesal dan takut akan apa yang terjadi pada dirinya, maka nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:

“Bagaimana engkau dapati hatimu?” dia menjawab: “Tetap tenang dalam keimanan” beliau bersabda: “Apabila mereka mengulanginya, maka ulangilah!”

dan Allah menurunkan firman-Nya:

إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (An Nahl: 106)

لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali-wali dan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbiuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imron: 28)

(Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan pedih siksa-Nya). Yaa Allah kabulkanlah.

-Selesai-

(Dinukil dari Blog Ulama Sunnah www.ulamasunnah.wordpress.com 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)


Dari:

http://firqatunnajiyah.wordpress.com/

http://www.ulamasunnah.wordpress.com/


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: